Mengingat kematian

Biar yang bercerita tak mengajakmu atau mungkin ceritanya sedikit di lebih-lebihkan?
kisah perjalanan selalu menarik
apalagi itu tentang keliling eropa, amerika, jepang, china
tempat yang tak pernah kita datangi
 
tentang negeri asing
 
Biar ceritanya jelas tak nyata, namanya juga fiksi
namun kisah-kisah novel cenderung laris di pasaran
 
penulisnya di panggil kemana-mana
untuk memberika seminar tentang bagaimana membuat cerita yang menarik
berbagi ilmu tentang bagaimana bisa mengajak ribuan manusia begitu terhanyut
dalam kisah buatannnya
————
dunia memang tipu daya
dan meskipun manusia tahu ini tipu daya
manusia tetap menikmatinya
 
lama-lama, tipu daya tidak lagi bernuansa negatif,
dia mulai dirasa lumrah, wajar dan menarik
 
ya lah, yang penting bisa dinikmati kan?
 
dikejar-kejar pagi, siang, malam
dikumpul-kumpulkan lebih dari sekedar kebutuhan
di genggam nya kuat-kuat takut pergi
 
bahkan terkadang di sombongkan
 
ramai-ramai bekerja sesuai passion, biar hidup lebih menarik
ramai-ramai saling memotivasi, katanya ini demi bersaing dalam kebaikan
 
pas baca ini, mungkin bilang, Status macam apa ini,
ga menarik^^
pasti ceramah panjang ga jelas lagi 😀
 
Ya, memang
intinya sih ini status kaya gitu 🙂
 
ungkapan rasa prihatin sebenarnya,
ga niat merubah hal yang sistematik
hanya mengingatkan diri sendiri
 
so, let’s back
 
kenapa hanya tertarik saat baca novel yang jelas2 ceritanya bohongan
padahal itu cerita bohong lo, gak nyata!
 
kenapa hanya tertarik mendengarkan teori-teori motivator dari trainer-trainer
padahal itu teori lo, dan ga semua teori itu bisa di praktekkan dalam hidup kita
dan menyamakan atau pun membandingkan hidup kita dengan kehidupan orang lain itu sama sekali tidak logis
 
lalu bagaimana dengan kematian?
lalu bagaimana dengan hidup setelah kematian?
 
pernah tertarik untuk baca seperti apa hidup setelah kematian?
padahal itu perjalanan yang pasti kita lalui lo
bukan hanya kita dengar dan belum tentu kita alami seperti perjalanan ke eropa atau amerika
 
lalu bagaimana dengan kematian?
padahal itu cerita nyata lo yang setiap orang akan mengalamainya
bukan cerita fiksi
 
 
Perbanyaklah mengingat pemutus kenikmatan, yaitu kematian. Karena sesungguhnya tidaklah seseorang mengingatnya di waktu sempit kehidupannya, kecuali (mengingat kematian) itu melonggarkan kesempitan hidup atas orang itu. Dan tidaklah seseorang mengingatnya di waktu luas (kehidupannya), kecuali (mengingat kematian) itu menyempitkan keluasan hidup atas orang itu. [Shahih Al Jami’ush Shaghir, no. 1.222; Shahih At Targhib, no. 3.333].
 
jangankan keabadian hidup, kebahagiaan abadi di dunia pun hanya sekedar mitos
bahkan dalam 24 jam sehari, apa kita bahagia selamanya?
selalu merasa senang setiap saat?
30 hari sebulan, apa kita selalu positif selamanya?
tak ada yang stabil di dunia… semua serba fluktuatif
 
hanya mengingatkan diri, mungkin kita terlalu terbuai sama sinetron-sinetron dan drama-drama,
kisah artis-artis, yang selalu cantik 24 jam sehari, 7 hari seminggu
yang masih kuliah saja sudah bisa pakai BMW, yang keluarganya selalu ngerti dan gak pernah sakit, drama yang artis-artisnya ga pernah melewati rutinitas yang membosankan
bahkan mereka ga pernah ke toilet, udah kaya bidadari kan? 🙂
 
Dari Ibnu Umar, dia berkata: Aku bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu seorang laki-laki Anshar datang kepada Beliau, kemudian mengucapkan salam kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu dia bertanya: “Wahai, Rasulullah. Manakah di antara kaum mukminin yang paling utama?” Beliau menjawab,”Yang paling baik akhlaknya di antara mereka.” Dia bertanya lagi: “Manakah di antara kaum mukminin yang paling cerdik?” Beliau menjawab,”Yang paling banyak mengingat kematian di antara mereka, dan yang paling bagus persiapannya setelah kematian. Mereka itu orang-orang yang cerdik.” [HR Ibnu Majah, no. 4.259. Hadits hasan. Lihat Ash Shahihah, no. 1.384].
Standard